Jakarta – Merah Putih: One For All, film animasi bertema nasionalisme, menuai pro dan kontra tajam menjelang penayangannya pada 14 Agustus 2025. Kendati tema kebangsaan sangat disorot, kualitas teknis dan proses produksinya jadi sorotan utama publik.
Pro: Upaya Lokal Menanamkan Semangat Kebangsaan
Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo, yayasan nirlaba di bawah Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail dan bukan badan usaha milik negara IMDb+15KapanLagi.com+15detikcom+15. Dengan anggaran disebut mencapai Rp 6,7 miliar, film ini adalah proyek gotong royong kreator, bukti keberanian karya anak bangsa Solo Balapan+5KapanLagi.com+5detikcom+5.
DPR turut memberi apresiasi. Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyebut film ini penting untuk menanamkan nilai nasionalis detikcom+12detiknews+12detikcom+12. Anggota Komisi VII, Ilham Permana, menekankan kritik sebagai bagian dari proses pembelajaran industri animasi dalam negeri detikcom+4detiknews+4detikcom+4.
Kontra: Kualitas Visual Dinilai Biasa-Biasa Saja
Trailer film ini menuai kecaman di media sosial. Netizen menyoroti kualitas grafis yang dianggap seadanya dan jauh di bawah standar seperti film Jumbo Instagram+15detikcom+15detikcom+15. Beberapa menyindir hasilnya mirip “tugas sekolah SMA seminggu sebelum deadline” detikcom.
Pengamat film Hanung Bramantyo menyatakan bahwa anggaran Rp 6,7 miliar saja tidak cukup jika ingin hasil animasi berkualitas tinggi. Ia menyarankan idealnya anggaran minimal Rp 30–40 miliar dengan proses produksi selama 4–5 tahun medcom.id+1. Pengamat Nuty Laraswaty menilai visual film ini mirip animasi era 90-an dan kalah telak bila dibanding Jumbo medcom.id.
Kontroversi Aset Animasi dan Proses Produksi Super Singkat
Sebagian netizen menduga film ini memakai aset animasi stock murah, seperti aset dari Daz3D, bahkan mengidentifikasi latar jalan “Street of Mumbai” TikTok+6detikcom+6detikcom+6. Ada anggapan bahwa karakter dalam film diimpor dari manufaktur aset luar negeri dengan harga puluhan dolar detikcom.
Selain itu, proses pembuatan yang dimulai Juni dan selesai dalam waktu kurang dari dua bulan dinilai terlalu cepat dan tak wajar untuk sebuah film panjang bioskop KapanLagi.comdetikcom.
Respons Produser: Bantahan dan Klarifikasi
Produser Toto Soegriwo memberi respons singkat soal kritik: “Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain,” sebagai bentuk sindiran KapanLagi.com+3detikcom+3detikcom+3.
Sutradara Endiarto membantah tudingan dana pemerintah. Ia menyatakan film ini sepenuhnya pembiayaan internal dan “gotong royong effort”, bukan dana negara KapanLagi.com+1.
Strategi Rilis dan Promosi Menjelang 17 Agustus
Menjelang HUT ke-80 RI, film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, dengan harga tiket spesial Rp 17.000 pada 17 Agustus Facebook+6Solo Balapan+6medcom.id+6. Sejumlah media menilai kontroversi ini bisa jadi senjata pemasaran tidak langsung untuk menarik perhatian publik medcom.id.
