
Strawberita – Pertemuan Trump dan Putin pada 15 Agustus 2025 di Anchorage, Alaska, menjadi sorotan dunia internasional. Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya duduk bersama dalam forum resmi.
Momen hangat tampak jelas saat kedua pemimpin berjabat tangan sambil tersenyum lebar. Trump menyapa Putin layaknya teman lama, bahkan sempat menepuk lengannya sebagai bentuk keakraban.
Jabat Tangan Penuh Makna
Jabat tangan antara Trump dan Putin bukan hanya sekadar gestur sopan santun diplomatik. Dalam politik internasional, simbol-simbol kecil seperti itu sering kali dibaca sebagai pesan tersirat.
Ketika keduanya berjabat tangan erat, publik dunia menilai ada sinyal terbuka menuju rekonsiliasi. Senyum keduanya seakan ingin menegaskan bahwa hubungan pribadi mereka tetap hangat meskipun diwarnai ketegangan geopolitik.
Putin Disambut Meski Jadi Buronan ICC
Kehadiran Putin di tanah Amerika Serikat memicu kontroversi. Putin saat ini berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang, terutama terkait deportasi anak-anak Ukraina.
Namun Trump tetap menyambutnya dengan hangat. Rusia sendiri menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa negaranya tidak mengakui yurisdiksi ICC.
Baca Juga : Fenomena Parade Planet 17-18 Agustus 2025, Begini Penjelasannya
Trump Sebelumnya Optimistis
Sehari sebelum pertemuan, Trump sudah menyampaikan optimismenya. Dari Gedung Putih, ia menyatakan peluang pertemuan gagal hanya satu banding empat. Dengan kata lain, Trump menilai kemungkinan tercapainya hasil positif jauh lebih besar.
Meski begitu, ia juga menegaskan siap menghentikan pertemuan lebih cepat apabila jalannya negosiasi tidak sesuai harapan Amerika Serikat.
Pertemuan di Tengah Bayang-Bayang Perang Ukraina
Latar belakang pertemuan ini tidak bisa dilepaskan dari konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022. Hingga kini, perang tersebut masih menjadi isu besar dalam keamanan global dan politik Eropa.
Banyak pihak melihat momen Alaska sebagai peluang untuk membuka pintu dialog setelah hubungan kedua negara memburuk selama beberapa tahun terakhir.
Keakraban Lama Kembali Terlihat
Trump dan Putin memang dikenal memiliki hubungan personal yang hangat sejak masa jabatan Trump sebelumnya di Gedung Putih. Trump sering kali menyebut Putin sebagai “teman baik” meski ditentang sebagian elite politik Washington.
Dalam pertemuan Alaska, citra keakraban itu kembali muncul. Bahasa tubuh keduanya menunjukkan relasi yang akrab, jauh dari suasana kaku yang biasanya mewarnai diplomasi tingkat tinggi.
Kritik dari Pihak Oposisi
Tidak semua pihak menyambut baik pertemuan tersebut. Sejumlah politisi oposisi di Amerika menilai sikap Trump yang terlalu ramah pada Putin justru melemahkan posisi AS dalam negosiasi.
Mereka khawatir Trump akan terlalu lunak dalam menekan Rusia agar menghentikan agresi militernya di Ukraina.
Reaksi Internasional
Negara-negara Eropa memantau ketat jalannya pertemuan. Uni Eropa, yang selama ini mendukung Kyiv dengan paket bantuan militer dan ekonomi, menilai hasil pembicaraan ini bisa memengaruhi arah perang.
Sementara itu, Tiongkok, yang belakangan semakin dekat dengan Moskwa, juga ikut menunggu perkembangan dari Alaska.
Apa yang Dibahas dalam Pertemuan?
Meski detail perundingan belum diumumkan secara resmi, sejumlah sumber diplomatik menyebut pembicaraan mencakup isu Ukraina, kontrol senjata nuklir, hingga kerja sama ekonomi terbatas.
Trump disebut ingin menekan Putin agar membuka peluang gencatan senjata, meski masih diragukan apakah hal itu realistis.
Simbol Politik yang Kuat
Terlepas dari substansi yang dibicarakan, pertemuan ini sudah menjadi simbol politik yang kuat. Foto-foto jabat tangan, senyum, dan sapaan akrab keduanya mendominasi media internasional.
Hal ini sekaligus menunjukkan bagaimana diplomasi modern sering kali dipengaruhi oleh gestur personal para pemimpin.
